Varia.id adalah situs Berita & Analisa Ekonomi Bisnis di Indonesia

Mayoritas Orang Indonesia tak Makan Sayur dan Buah

0

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, sebanyak 93,5 persen penduduk di atas usia 10 tahun kurang mengonsumsi sayur dan buah. Angka ini menurun kalau dibandingkan dengan tahun 2007. Pada 2007, kurangnya konsumsi sayur dan buah mencapai 93,6 persen.

Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (Dirjen SPK) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Widodo mengatakan, justru konsumsi mie pada anak usia 10-14 tahun sangat tinggi.

“Yang mengonsumsi lebih dari sekali seminggu pada anak usia 10 -14 tahun mencapai 90,5 persen. Sedangkan yang mengonsumsi lebih dari tiga kali mencapai 51 persen,” kata Widodo di Jakarta, pertengahan Maret 2015.

Widodo khawatir, makanan dan obat penggugur kandungan yang dikonsumsi masyarakat tidak menghasilkan pemenuhan gizi yang cukup. Ditambah lagi, tingkat konsumsi makanan berisiko juga cukup tinggi. Mencapai 53 persen untuk makanan manis, dan 41 persen untuk makanan berlemak. Lalu, konsumsi makanan asing sebanyak 26 persen dan konsumsi bumbu penyedap mencapai 77 persen.

Menurut Widodo, faktor-faktor tersebut dapat memicu beragam penyakit, terutama penyakit tidak menular.

Ketersediaan pola makan yang sehat dirusak oleh ketersediaan akses dan keterjangkauan harga produk. Apalagi produk pangan olahan yang tinggi lemak, gula dan garam. Produk-produk semacam ini kerap dipromosikan di pasaran.

Kurangnya kesadaran konsumsi sayur dan buah

“Promosinya mengalahkan panganan lokal yang sehat. Perlu ada perubahan lingkungan untuk membantu konsumen memilih pola makan yang sehat,” tegas Widodo.

Bukan hanya ancaman berbagai penyakit, obesitas hingga cara menggugurkan kandungan dengan kunyit pun mengancam konsumen. Obesitas di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Masalah obesitas biasanya dialami oleh penduduk perkotaan dengan pendidikan tinggi dan kelompok dengan status ekonomi yang tinggi pula.

Prevalensi berat badan lebih dan obesitas meningkat menjadi 26,3 persen, jika dibandingkan dengan tahun 2010 yang hanya 21,7 persen. Sedangkan untuk anak dengan rentang usia 5-12 tahun, terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Dari 9,2 persen menjadi 18,8 persen. Begitu juga dengan kelompok anak sampai usia 18 tahun.

Naulie Faizah, seorang warga yang tak gemar mengonsumsi sayur mengaku, makanan yang kaya vitamin ini terasa hambar. Ia ingin ada terobosan supaya orang yang tak suka sayur seperti dia, mulai mengonsumsi sayur. Misalnya, membuat sayur lebih menarik, lezat dan memikat.

“Mungkin dibikin seperti coklat dari sari sayuran, atau burger sayur, supaya masyarakat semakin banyak yang mengonsumsi sayur,” ujarnya.

Namun demikian, kata Naulie, masyarakat sekarang sudah mulai sadar untuk menjalani hidup sehat. Terutama dengan mengonsumsi makanan-makanan organik. Walau kebanyakan lebih kepada gaya hidup, bukan pada pemenuhan gizi.

Tren mengonsumsi makanan organik ini, menurutnya, lebih kepada faktor sosiografi semata. Tidak semua masyarakat melakukannya. Gaya hidup ini memang tidak murah. Untuk mengonsumsi sayur organik minimal harus merogoh kocek mulai dari Rp 5.000 untuk 250 gram sayuran. Harga ini bervariasi, tergantung sayur yang ditawarkan.

Naulie berpendapat, pemerintah hanya perlu membenahi sektor pertanian. Caranya dengan mengatur subsidi harga pangan terutama sayur. Serta memperbaiki produksi dan kualitas petani. Kemudian mendorong masyarakat agar mau mengonsumsi sayur dan buah.

“Dengan kampanye saja, tidak akan cukup meningkatkan angka konsumsi sayur dan buah masyarakat,” ujarnya.*

Leave A Reply

Your email address will not be published.