Hidupnya Buku Bajakan, Matinya Penulis

Pertumbuhan ekonomi kreatif sejak awal tahun ini melebihi sektor industri utama atau mencapai 5,76 persen. Namun, salah satu sektor ekonomi kreatif yaitu penerbitan dan percetakan belum optimal tumbuh lantaran masih marak pembajakan buku. Penulis menjadi pihak paling dirugikan dalam pembajakan buku.


Buku-buku bekas/ ilustrasi. (Foto: Aulia Afrianshah/ VARIA.id)

VARIA.id, Jakarta – Buku karangan Asma Nadia yang berjudul “Surga yang tak Dirindukan” dipajang di hampir sepanjang lapak buku di lantai bawah Blom M Square, Jakarta Selatan. Buku yang sudah diangkat ke layar lebar, hampir sebagian besar mengisi tumpukan buku-buku yang dijual di salah satu pusat buku murah di Jakarta ini.

Namun, yang membuat dahi berkernyit, hampir seluruh sampul dari buku karangan Asma Nadia ini berwarna pudar. Bukan cuma itu. Sedikit saja terkena hentakan saat disibak, kertasnya mudah sobek karena saking tipisnya. Teksnya masih bisa terbaca, meski pada sejumlah halaman cetakannya tak segaris dengan potongan kertas.

Seorang pedagang buku pun menegaskan penawarannya tanpa segan-segan. “Bagus tuh neng, sedang laris. Tiga puluh ribu rupiah saja,” katanya sambil memegang buku berjudul ‘Surga yang tak Dirindukan’, Jumat 14 Agustus 2015.

Dahi ini makin berkernyit. Sebab jika dibandingkan dengan harga asli buku tersebut di sebuah toko ritel buku nasional lebih murah lebih dari 50 persen.

“Masih bisa kurang harganya,” tambah penjual itu sambil terus menyodorkan bukunya.

Transaksi pun terjadi setelah pembeli menawarnya seharga Rp 25 rbiu. Saat itu juga, sebuah buku bajakan telah berpindah tangan dari pedagang ke konsumen.

Kualitas seadanya dan harga murah menjadi tawaran menarik bagi siapa saja untuk membeli buku di lapak-lapak lantai bawah Blok M Square. Buku-buku bajakan yang dijual pun berasal dari penulis ternama. Sebut saja, Andrea Hirata, Dewi Dee Lestari, Raditya Rika, Tere Liye, Asma Nadia, Rhenald Kasali, Quraish Shihab, dan Ippho Santosa. Buku-buku non-fiksi sampai kitab suci pun bentuknya serupa.

Varia.id pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah satu pedagang buku bajakan yang namanya tak mau disebutkan. Lelaki asal Sumatera Barat ini mengakui sirkulasi penjualan buku bajakan lebih cepat ketimbang buku asli. Sebab, harganya murah. “Apalagi kalau ada novel yang difilmkan. Penjualannya lebih cepat,” katanya.

Kata dia, buku-buku non-fiksi seperti buku pelajaran, buku terjemahan bahasa asing, dan kitab suci juga sebagian besar adalah bajakan. “Memang tak selaris buku jenis novel Indonesia. Tapi yang penting kalau orang cari ada barangnya,” cetusnya.

Saat ditanya dari mana ia memperoleh buku-buku bajakan itu, ini reaksinya. “Enggak tahu, ini diantar orang kok. Langsung diantar ke sini, jadi saya tinggal jual,” katanya terbata-bata.

Kebanyakan pembeli buku novel bajakan Indonesia adalah kaum hawa. Mulai dari perempuan remaja hingga wanita perkerja, ataupun ibu-ibu rumah tangga.

Penjualan buku bajakan juga tak kenal musim. Penjualan bisa melonjak tinggi ketika seorang penulis yang memiliki banyak penggemar baru saja meluncurkan buku terbarunya. Saat itu para pedagang bisa meraup laba melebihi hari-hari biasa.

“Sebenarnya saya ambil untung sama saja dengan jualan buku yang asli. Walaupun bajakan, kalau harganya saya lebihin sedikit nanti kan bisa-bisa dia beli di tempat lain,” ungkap lelaki yang mengaku berjualan buku bajakan sejak 2012. Ia pun enggan menyebutkan berapa omzet yang ia peroleh dari buku-buku tersebut.

Buku bajakan tetap laris manis lantaran punya pasar tersendiri. Para penikmat buku yang enggan merogoh kocek lebih dalam, memilih untuk membeli buku bajakan ketimbang buku cetakan dari penerbit resmi.

Salah satu pelanggan lapak buku di Blok M Square adalah Rizaldy. Pria yang bekerja sebagai penulis di sebuah majalah seni ini mengaku sudah mengoleksi sebagian dari seratusan buku yang dibeli dari lapak di Blok M Square.

“Novel Pram (Pramoedya Ananta Toer-red) yang gue beli di Blok M Square pasti bajakan. Waktu itu yang asli jarang dan mahal. Sekarang yang asli dicetak ulang, tapi harganya tetap mahal,” tuturnya.

Novel yang ia beli adalah bagian dari serial Tetralogi Pulau Buru. Ia membandingkan harga buku asli di toko buku besar sekitar Rp 130 ribu per buku. Sedangkan buku bajakan ia cukup mengeluarkan duit Rp 40 ribu.

Buku bajakan tampaknya sulit diberantas. Padahal, pembajakan buku selain merugikan negara lantaran tak ada pajak yang masuk, juga merugikan penerbit karena perlahan-lahan kehilangan pasar.

Penulis Paling Dirugikan

Namun, dari pihak yang paling dirugikan dari pembajakan buku adalah penulis. Dengan pembajakan, karya dan hak cipta para penulis telah dicuri. Mereka hanya bisa bermimpi untuk mengantongi royalti dari buku bajakan. Padahal, royalti yang diterima penulis tidak sebesar yang dipotong pajak untuk negara, penerbit, distributor dan pedagang.

Pingadi Abdi, seorang penulis pernah mengungkapkan keluhan melalui media sosial. Penulis buku ‘4 Musim Cinta’ menyebutkan rata-rata royalti yang diterima penulis adalah 10 persen. Dari kue sebesar 10 persen itu pun masih harus disunat ke sana ke mari.

Pertama, royalti akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sehingga sisa royalti menjadi 9 persen. Setelah itu penulis menanggung lagi Pajak Penghasilan (PPh) royalti sebesar 15 persen, sehingga sisanya 7,65 persen. “Semisal buku yang ia tulis seharga Rp 50.000 satu eksemplar, maka royalti yang diterima penulis per buku adalah Rp 3.825,” tulisnya.

Penulis lainnya, Bambang Trim juga mengungkapkan hal serupa. Melalui blog pribadinya, pengarang buku ‘Taktis Menyunting Buku’ ini mengatakan seorang penulis baru bisa benar-benar merasakan keuntungan dari royalti kalau tembus best seller. Dan untuk menjadi buku best seller, buku itu harus terjual lebih dari 30 ribu eksemplar dalam setahun. “Atau dicetak tiga kali dalam rentang tiga bulan. Cetakan I 3.000 eksemplar untuk tes pasar, cetakan II 5.000 optimistis, dan cetakan III 10.000 yakin,” ungkapnya.

 

Editor: Muhammad Irham

Penulis

Konten Terkait

*

Top