Pecel Madiun Berkat, Makin Gurih dengan NPWP

Tak cuma gurih di mulut, Pecel Madiun “Berkat” makin ramai setelah memiliki NPWP.


Pecel Madiun Berkat di Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Foto: Vela Andapita/ VARIA.id)

VARIA.id, Jakarta – Matahari baru saja terbit. Trotoar di sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta masih tampak lengang. Becak-becak mulai keluar dari gang-gang. Kereta kuda satu persatu berbaris di samping lampu jalan yang mulai dipadamkan.

Para pedagang kaki lima mulai membuka lapak, membersihkan debu dari barang dagangan. Pintu gulung besi beberapa toko mulai dikerek, sehingga tampak barang-barang dagangan beraneka ragam.

Para pedagang makanan ringan untuk sarapan juga sudah menjajakan dagangannya di emperan jalan. Mereka menjual aneka santapan untuk sarapan. Mulai dari nasi kucing, nasi gudeg, nasi rames, bubur ayam, ketupat sayur, sampai pecel.

Salah satu kuliner untuk mengisi perut di pagi hari yang cukup ramai dikerumuni pembeli pagi itu adalah Pecel Madiun Berkat. Letaknya persis di trotoar sekaligus area parkir sepeda motor depan Malioboro Mall.

Di belakang gerobak, Husadanto Sunubronto (61) dibantu anak, isteri, dan adiknya, sudah berpeluh lantaran dikepung pengunjung. Dua sendok besar nasi yang masih ngebul, sayur-sayuran rebus dengan bumbu pecel, dan peyek disatukan dalam pembungkus berlapis daun pisang.

Para pembeli juga ditawarkan menu pilihan lain sebagai pendamping pecel: tempe, telur ceplok, telur dadar, atau sate ayam. Para pengunjung yang tak sabar bisa langsung mengambil menu pendamping itu sendiri.

Berbeda dengan pecel kebanyakan yang dijajakan di sepanjang Jalan Malioboro, Pecel Madiun Berkat memiliki bumbu pecel yang khas. Bumbunya kental tak terlalu pedas dengan kacang yang ditumbuk halus dan terasa manis gurih di lidah. Ditambah lagi, peyek renyah yang rasanya pas dengan bumbu dan sayurannya. “Porsinya juga besar, jadi puas banget untuk sarapan,” bisik seorang pengunjung.

Sunubronto mengatakan, biasanya sebelum gerobaknya sampai di lokasi sudah ada 5-6 pelanggan. “Pernah juga ada pelanggan yang bela-belain mengejar pesawat subuh dari Jakarta, supaya dari bandara bisa langsung sarapan di sini,” kata lelaki yang akrab dipanggil Pak Sunu, seraya tertawa.

Sunu sudah berjualan pecel sejak 2000 silam. Dia merupakan warga asli Yogyakarta, sedangkan isterinya berasal Madiun. Awalnya, Sunu dan isteri berjualan aneka macam gorengan. Pada akhirnya, banting stir ke menu kuliner pecel Madiun lantaran berjualan gorengan kurang menggiurkan dari segi penghasilan.

Selain itu, soal harga, Pecel Madiun Berkat jug bersaing. Satu porsi pecel dibanderol Rp 11.000. “Itu sudah termasuk dengan telor ceplok dan teh manis hangat,” kata Sunu.

Sunu mengaku tiap hari bisa menjual 150-200 porsi pecel. Porsi penjualan tersebut sudah termasuk ketika ada pesanan dari lembaga, instansi, kelompok atau perorangan. “Kalau lembaga atau instansi itu bisa pesan 20-50 porsi. Tapi memang tidak tiap hari,” ungkapnya.

 

Makin Ramai Setelah Punya NPWP

Gerobak Pecel Madiun Berkat punya tempelan unik di etalase kacanya, “Aku Sudah Bayar Pajak Loh. NPWP: 08.974.018.7-541.000”. Pecel Madiun Berkat sudah terdaftar memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak sejak 2010.

Lukas Hananto, anak dari Sunu yang tiap hari membantu berjualan mengatakan usahanya baru punya NPWP sejak mendapat pesanan dari Bank Indonesia cabang Yogyakarta. “Waktu itu mereka tanya, ‘sudah punya NPWP belum?‘ Tapi kan kita ndak punya. Nah, setelah itu kita buat NPWP,” kata Lukas.

Setelah terdaftar memiliki NPWP lima tahun lalu, pemesanan Pecel Madiun Berkat terus bertambah. Urusan administrasi pembayaran bisa dengan mudah tercatat pada instansi atau lembaga yang memesan pecel.

“Kalau dari Bank Indonesia itu sudah jadi langganan, terus tambah lagi Bank Pembangunan Daerah DIY, lalu ada juga penambahan pemesanan dari kelompok masyarakat atau LSM,” lanjut Lukas.

Pada 2014 lalu, Pecel Madiun Berkat bahkan menjadi salah satu UMKM yang menyabet Inspiring Tax Payer dari pemerintahan provinsi. Selain Pecel Madiun Berkat, usaha kecil lain yang menjadi inspirasi pembayar pajak adalah Harry Van Yogya (penarik becak), pedagang kain di Pasar Beringharjo dan usaha Ayam Bakar Wonosari.

Meskipun sudah mendapatkan tempat di hati pengunjung di seputaran Malioboro, Pecel Madiun Berkat belum berencana untuk ekspansi usaha. Alasannya belum punya modal yang cukup dan keterbatasan sumber daya manusia.

Sebenarnya untuk pengadaan bumbu pecel, kata Lukas, Pecel Madiun Berkat sudah memproduksi bumbu pecel instan kemasan. Sehingga cabang lainnya tinggal menyediakan sayuran, peyek dan menu tambahan. “Tapi untuk peyeknya, itu cuma ibu saya saja yang bisa membuatnya,” tutupnya.*

 

Editor: Muhammad Irham

Penulis

Konten Terkait

*

Top