Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Melebihi Sektor Industri Utama

Pertumbuhan industri ekonomi kreatif berada di atas pertumbuhan sektor industri lainnya seperti industri listrik, gas, dan air bersih, pertambangan pertanian, peternakan, jasa-jasa dan industri pengolahan. Pemerintah ditantang terus mendorong pertumbuhan industri ekonomi kreatif melalui pengembangan teknologi informasi.


Presiden Jokowi menulis pesan mengenai ekonomi kreatif saat berdialog di Indonesia Convention Exhibition (ICE), kawasan BSD Serpong, Banten, (4/8/2015). (Foto: Setkab)

VARIA.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan industri ekonomi kreatif merupakan pilar perekonomian masa depan. Hal ini menyusul catatan pertumbuhan di sektor industri ini yang mencapai 5,76 persen.

Dengan angka ini, pertumbuhan sektor industri ekonomi kreatif berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan. Menurut presiden, kontribusi  ekonomi kreatif pada perekonomian nasional semakin nyata. Nilai tambah yang dihasilkan juga mengalami peningkatan setiap tahun.

“Saya akan membuat keputusan politik agar di masa yang akan datang ekonomi kreatif bisa menjadi pilar perekonomian kita,” kata Presiden Jokowi dalam keterangan pers saat membuka acara Temu Kreatif Nasional di Tangerang Selatan, Banten, Selasa 4 Agustus 2015.

Presiden berjanji memberi dukungan penuh dalam masalah anggaran kepada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). “Saya berharap Badan Ekonomi Kreatif untuk  segera bekerja dan bekerja, serta berlari cepat untuk memfasilitasi percepatan pembangunan di sektor ekonomi kreatif,” lanjutnya.

Namun harus disadari, upaya untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif memerlukan kebersamaan, memerlukan sinergi dari semua pihak pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya melalui temu kreatif  nasional yang melibatkan para pelaku industri dan ekonomi kreatif  untuk curah pikiran, curah gagasan, berbagi pengalaman, unjuk kerja, unjuk kreativitas untuk kemajuan sektor ini.

Industri kreatif juga butuh sinergi dan kerjasama antara  para inventor dengan para investor. Sinergi ini akan mendorong karya-karya kreatif  mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.

“Menghadapi tantangan yang semakin berat ke depan, kita perlu memperkuat kemampuan industri kreatif untuk bersaing dengan produk-produk  ekonomi kreatif impor. Keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik ke belakang, dengan pemasok maupun keterkaitan ke depan yang menyerap subsektor ekonomi kreatif perlu diperkuat,” kata Presiden Jokowi.

Dalam kesempatan dialog dengan para pelaku ekonomi kreatif itu, CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, agar pemerintah fokus pada pengembangan software (perangkat lunak). Sebab, perkembangan teknologi informasi khususnya telepon genggam dapat mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif.

Presiden Jokowi menyambut baik gagasan Nadiem Makarim. Saat ini, pemerintah menginginkan seluruh kegiatan di sektor informal, misalnya petani atau nelayan juga dilengkapi dengan gadget yang memiliki software pendukung pekerjaan mereka.

Saat ini hampir semua nelayan memiliki telepon genggam, sehingga mereka membutuhkan aplikasi untuk mengetahui cuaca dan tempat ikan. “Petani juga bisa diinfokan cuaca, terkait penanaman. Juga berkaitan dengan harga cabai, beras, jagung semua bisa tahu. Itu bisa bantu yang kecil-kecil ini bisa terangkat,” tambah Jokowi.

Selain pengembangan software, pemerintah juga dituntut untuk mendorong industri perfilman. Hal ini dikemukakan oleh artis Lucky Kuswandi. Menurutnya, saat ini ketersediaan infrastruktur dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) masih minim. “Citra film produksi dalam negeri juga masih kurang baik,” katanya.

Menjawab hal itu, pemerintah berwacana menambah bioskop, tidak hanya kelas atas, namun bioskop kelas menengah dan kelas bawah.

 

Gedung Konvensi Terbesar

Seusai berdialog dengan para pelaku ekonomi kreatif, Presiden Jokowi meresmikan gedung konvensi terbesar, Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD City. Gedung ini berguna untuk mempromosikan pelbagai jenis produk ekonomi kreatif Indonesia. ICE berdiri di atas lahan seluas 22 hektar yang dikembangkan Sinarmas Land Group, dan Kompas Gramedia melalui perusahaan patungan (joint venture) yaitu PT Indonesia International Expo (IIE). Nilai megaproyek ini mencapai Rp 3,8 triliun.*

 

Editor: Muhammad Irham

Penulis

Konten Terkait

*

Top