AS Beri Angin Segar Produk Perikanan Indonesia

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Senat AS akhirnya menyepakati pembaruan dan perpanjangan skema Generalized System of Preference (GSP). GSP merupakan skema khusus untuk pemberlakuan tariff rendah atau nol untuk produk impor dari negara-negara berkembang. Indonesia termasuk yang mendapat fasilitas ini.


Ikan tangkapan nelayan di Karimun Jawa. Pemerintah AS memberikan perlakuan khusus terhadap produk-produk impor dari negara berkemang, yang bernama Generalized System of Preference (GSP). (Foto: wiki)

VARIA.id, Jakarta – Di penghujung Juni lalu, Pemerintah AS memutuskan untuk memperbarui skema perlakuan khusus terhadap produk-produk impor dari negara berkemang. Skema bernama Generalized System of Preference (GSP) merupakan skema khusus dari negara-negara maju yang menawarkan perlakuan istimewa kepada produk-produk impor asal negara berkembang. Skema ini mulai diberlakukan Rabu, 29 Juli 2015 sampai akhir 2017.

Sebelumnya, GSP dihentikan sejak 2013 lantaran tak mendapat persetujuan dari Senat AS. Namun, setelah kembali disetujui di penghujung Juni lalu, skema khusus penurunan tariff bea masuk ke Negeri Paman Sam kembali dibuka. GSP bersifat non-timbal balik yang artinya tariff tersebut ditentukan sepenuhnya oleh AS.

“Hal ini akan menjadi peluang yang sangat baik bagi eksportir perikanan Indonesia karena melalui skema tersebut sejumlah produk perikanan Indonesia, seperti kepiting beku, ikan sardin, daging kodok, ikan kaleng, lobster olahan, rajungan dan dibebaskan dari tarif bea masuk atau dengan kata lain dikenakan tarif nol persen. Besarnya penurunan tarif antara 0,5 – 15 persen,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut P. Hutagalung dalam keterangan tertulis yang diterima Varia.id, Kamis 30 Juli 2015.

Berdasarkan catatan KKP, Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor utama bagi produk perikanan Indonesia. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS terus meningkat.

Pada 2011, nilai ekspor produk perikanan mencapai 1,07 miliar dolar AS. Nilai ini meningkat pada 2012 menjadi 1,15 miliar dolar AS, dan meningkat menjadi 1,33 miliar dolar AS pada 2013. Pada 2014 nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS mencapai 1,84 miliar dolar AS. Pertumbuhan ekspor perikanan Indonesia ke AS mengalami peningkatan rata-rata 21,14 persen.

Sedangkan komoditas utama ekspor Indonesia ke AS di antaranya udang, kepiting, tuna, tilapia, cumi-cumi, ikan hias, rumput laut, kekerangan, dan lobster.

“Semua produk perikanan yang mendapat fasilitas GSP diperkirakan 1,75 persen dari total ekspor ke AS yang mencapai 1,84 miliar pada tahun 2014,” jelas Saut.

Screen Shot 2015-07-30 at 5.24.06 PM

Lebih lanjut, Saut mengklaim pemberian fasilitas GSP ke Indonesia tak luput dari peran KKP menjalin kerjasama yang baik dengan otoritas terkait di AS. Selain itu, KKP juga gencar mengkampanyekan penurunan tarif bea masuk di negara-negara maju. “Terutama sejak November 2014 serta langkah-langkah penanggulangan praktek IUU Fishing dan membangun kelautan dan perikanan berkelanjutan turut berkontribusi pada pemberian fasilitas GSP kepada Indonesia,” tambahnya.

Kata Saut, momentum ini harus segera dimanfaatkan oleh para eksportir produk perikanan mengingat pesaing Indonesia seperti Tiongkok dan Vietnam tidak mendapatkan fasilitas serupa.

Maskipun demikian, para eksportir tetap harus menjaga kualitas dan mutu produk perikanan serta memperhatikan aspek-aspek kelestarian sumber daya perikanan dan aspek sosial seperti yang ditetapkan otoritas AS. “Hal tersebut mengingat pemerintah AS cukup ketat dalam menerapkan berbagai persyaratan untuk produk yang diimpornya,” tutup Saut.*

 

Editor: Muhammad Irham

Penulis

Konten Terkait

*

Top