Perbankan Yunani di Ambang Kebangkrutan

Bank-bank di Yunani terancam gulung tikar setelah masyarakat menarik uang secara besar-besaran. Uni Eropa belum menunjukkan komitmen bulat untuk menyelamatkan perbankan Yunani dari ancaman kiamat tersebut.


Bank-bank di Yunani terancam bangkrut dikarenakan warga Yunani secara massal menarik uang tunai dalam jumlah besar. (Foto: Christos Tsoumplekas / Foter / CC BY-NC)

VARIA.id, Jakarta – Bank-bank di Yunani terancam bangkrut pada Senin 13 Juli 2015. Sebab, warga Yunani menarik uang dari bank secara besar-besaran. Padahal, mereka tidak memiliki cadangan uang tunai cukup.

Penarikan uang tunai dari bank-bank tetap tinggi meskipun pemerintah Yunani sudah membatasinya. Pemerintah Yunani membatasi penarikan uang tunai sebesar 60 euro setiap harinya dari mesin ajungan tunai (ATM). Selain itu, bank-bank tidak boleh buka. Ketentuan ini berlaku sampai Senin, 13 Juli 2015.

Secara keseluruhan dalam sehari, rakyat Yunani bisa menarik uang dari bank hingga 100 juta Euro. Alhasil, uang di bank-bank Yunani, seperti diberitakan laman Financial Times pada 9 Juli 2015, bakal kering kerontang mulai Senin besok.

Ketua Asosiasi Bank Yunani Louka Katseli bahkan sudah tak bisa memprediksi dampak buruk dari krisis perbankan ini. Selama ini, bank-bank di Yunani sudah bahu-membahu mengatasi penarikan uang massal. Bank sentral, Bank Yunani memerintahkan bank yang tidak sehat menarik likuiditas mereka dari bank yang lebih sehat.

Financial Times menyebutkan, bank-bank di Yunani menolak berkomentar. Empat bank terbesar Bank Nasional Yunani, Eurobank, Piraeus dan Bank Alpha menolak memberi jawaban dan berspekulasi tentang masa depan mereka.

Sebelumnya, bank-bank Yunani semakin terdesak setelah Bank Sentral Eropa memperberat syarat pengajuan pinjaman. Mereka membuat aturan baru pengajuan pinjaman dengan syarat menyertakan jaminan.

Bank-bank di Yunani juga tidak dapat mengajukan pinjaman dana darurat ke Bank Sentral Eropa. Ini lantaran mereka sudah menarik seluruh jatah pinjaman sebesar 89 miliar euro dari pos tersebut. Bank Sentral Eropa juga tidak menunjukan gelagat akan meningkatkan batas atas tersebut.

Screen Shot 2015-07-12 at 19.37.45

Solusi Utang Baru

Satu-satunya peluang bank-bank Yunani mendapatkan bantuan adalah kesepakatan baru antara Yunani dengan Uni Eropa.

Kamis lalu, Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengajukan proposal pinjaman baru. Dalam proposal tersebut, pemerintahan yang dikuasai partai Syriza mengajukan dana talangan senilai 70 miliar euro. Proposal setebal 13 halaman itu ditujukan pada kreditor Eurozone, Dana Moneter Internasional (IMF) dan parlemen Yunani.

Dalam Proposal itu Yunani berkomitmen menaikan pajak pertambahan nilai, pajak restoran hingga 23 persen. Yunani juga akan menghapus bebas pajak untuk pulau-pulau di Yunani kecuali pulau terpencil.

Sementara, pajak perusahaan akan naik menjadi 28 persen. Namun, pemerintahan sayap kiri itu akhirnya sepakat untuk melakukan reformasi di tunjangan pensiun. Pemerintah akan menghapuskan pembayaran dana tambahan untuk kaum miskin antara Maret 2016 hingga akhir 2019.

Proposal tersebut kini sedang dibahas oleh Uni Eropa. Sementara, pelbagai perbedaan pendapat mulai muncul di antara negara-negara Uni Eropa.

Kanselir Jerman Angela Merkel, seperti diberitakan The Wall Street Journal pada 09 Juli 2015, justru mendesak Yunani untuk mengajukan penghematan lebih ketat ketimbang mengajukan dana talangan pertama dan kedua.

Kementerian Keuangan Jerman bahkan mengusulkan agar Yunani keluar dari zona keuangan Euro selama lima tahun. Jika ekonomi negara itu membaik, maka Yunani akan kembali mendapat izin menggunakan mata uang euro.

Di Finalndia, partai terbesar kedua Finns Party mendesak pemerintah untuk menolak pemberian dana talangan.

Parlemen Yunani di sisi lain menyetujui dengan suara mayoritas proposal tersebut. Sebanyak 250 dari 300 anggota parlemen sepakat dengan proposal baru. Meskipun begitu, oposisi muncul dari sejumlah anggota parlemen dari partai koalisi pemerintah. Sebanyak 32 memilih untuk menolak proposal. Tujuh anggota parlemen dari SYRIZA bahkan memboikot. Delapan anggota parlemen SYRIZA memilih abstain.

Pekan lalu, sebanyak 60 persen rakyat Yunani dalam referendum menolak persyaratan Uni Eropa dan IMF untuk pemberian dana talangan. Pendonor itu masyaratkan Yunani melakukan reformasi keuangan. Di antaranya adalah pengurangan dana pensiun.

 

Editor: Muhammad Irham (Financial Times/Wall Street Journal)

Konten Terkait

*

Top