Mesin Pertumbuhan Ekonomi Ala Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo merespon perlambatan ekonomi nasional yang terjadi sepanjang pemerintahannya. Untuk mengatasi hal itu, menurutnya perlu perubahan fundamental dalam sistem produksi dan distribusi barang dan jasa agar bernilai jual tinggi.


Presiden Jokowi saat menyampaikan paparan “Jokowi Menjawab Tantangan Ekonomi”, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, (9/7/2015). (Foto: Setkab)

VARIA.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan situasi perekonomian yang dihadapi Indonesia saat ini lebih ringan ketimbang krisis ekonomi yang terjadi pada 1998. Ia menyerukan agar kalangan dunia usaha bahu membahu untuk melewati fase perlambatan perekonomian yang terjadi pada kuartal I-2015.

“Saya ajak semua kalangan untuk kompak, kalangan dunia usaha saling bahu membahu, saya ajak untuk semuanya bekerja sama, berkontribusi untuk membangkitkan perekonomian kita saat ini,” katanya dalam keterangan pers yang dimuat setkab.go.id saat pertemuan pelaku bisnis nasional bertajuk Jokowi Menjawab Tantangan Ekonomi di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis 9 Juli 2015.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan perekonomian pada kuartal I-2015 sebesar 4,71 persen. Pertumbuhan perekonomian pada periode ini mengalami pelambatan jika dibandingkan pada kuartal I-2014 yang mencapai 5,14 persen.

Menurut Presiden Jokowi, perlambatan ini lantaran ekonomi Indonesia sedang mengalami transisi yang fundamental. Ekonomi nasional sedang beralih dari konsumsi ke produksi, dan dari konsumsi ke investasi.

Untuk mendorong proses transisi tersebut diperlukan mesin pertumbuhan (growth engine) dari siklus yang lalu. Mesin pertumbuhan tersebut adalah infrastruktur transportasi dan listrik, pabrik yang berorientasi eskpor, dan pengembangan sumber daya manusia.

“Namun untuk membangun growth engine yang baru, mesin pertumbuhan yang baru butuh waktu, butuh proses,” kata Presiden Jokowi.

Salah satu yang disadari kepala negara adalah komoditas mentah yang sudah tidak bisa diandalkan lagi. Untuk memperbaiki perekonomian, komoditas mentah perlu diolah kembali agar menghasilkan nilai tambah. “Kita harus masuk ke hilirisasi, ke industrialisasi. Dunia telah berubah, dan menggali komoditas mentah, baik nikel, tembaga, bauksit sudah tidak bisa lagi menghasilkan kemakmuran sebagaimana sebelumnya karena harga komoditas sedang anjlok,” jelasnya.

Presiden Jokowi juga menyarankan kepada dunia usaha tak gegabah menaikkan harga barang di saat nilai rupiah sedang melemah. Kata dia, yang perlu dilakukan di saat seperti itu adalah menekan ongkos produksi dan mengubah sistem distribusi agar lebih efisien. Sebab, dengan menaikkan harga barang dan jasa di tengah nilai rupiah yang sedang melemah akan membuat ekonomi yang tidak kompetitif.

Pemerintah juga akan mengambil bagian untuk mengatasi hal ini. “Kami sadar bahwa tantangan yang kita akan hadapi ke depan tidak ringan, dan inilah tanggung jawab kami, tanggung jawab saya, tanggung jawab pemerintah,” kata Presiden Jokowi.

 

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5 Besar Dunia

Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2015 ini tak hanya menyasar Indonesia, akan tetapi telah menjadi masalah global. Hal ini juga disebabkan faktor eksternal di antaranya kurs dolar yang makin menguat, harga minyak mentah yang anjlok, krisis Yunani, dan konflik di timur tengah.

Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini mengalami fase lesu atau rata-rata 2-3 persen. Dalam survei bertajuk “10 Negara Dengan Pertumbuhan Ekonomi Terburuk”, Bloomberg menempatkan Ukraina sebagai negara dengan pertumbuhan terburuk atau minus 4 persen.

Sementara Rusia minus 3,5 persen lantaran harga minyak mentah masih anjlok. Negara dengan pertumbuhan ekonomi terburuk berikutnya adalah Brasil dan Argentina dengan nilai minus 1,5 – 1,6 persen. Negara-negara di Amerika Latin ini masih menghadapi persoalan inflasi tinggi dan pengangguran yang membengkak.

Dari 47 negara yang disurvei Bloomberg, pertumbuhan ekonomi di Indonesia justru masuk dalam urutan 5 besar terbaik. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia diperkirakan mencapai 5,44 persen tahun ini. Namun, nilai pertumbuhan ekonomi ini masih kalah dengan negara tentangga seperti Filipina yang mencapai 5,7 persen, Vietnam dengan pertumbuhan 6,1 persen, Tiongkok 6,9 persen dan India dengan nilai tertinggi 7,5 persen.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia ini bisa memberikan harapan dan peluang bagi Indonesia untuk memutar mesin pertumbuhan. Untuk itu, pemerintah perlu segera melakukan akselerasi atas strategi yang sudah direncanakan seperti percepatan pembangunan infrastruktur dasar.

 

Screen Shot 2015-07-10 at 12.45.07 AM

 

Tak Gerak Cepat, Kepercayaan Investasi Menurun

Hal yang perlu diwaspadai Pemerintah Jokowi-JK di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat adalah efek terhadap kepercayaan investasi. Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pertumbuhan Ekonomi (UNTAD) mencatat Indonesia merupakan negara ke-3 dari 20 negara yang paling prosfektif untuk investasi dalam 5 tahun ke depan.

Akan tetapi, perlambatan ekonomi pada awal 2015 telah memukul kepercayaan investasi di Indonesia. Hal ini tampak dari menurunnya indeks keyakinan bisnis Indonesia dari 104,7 menjadi 96,3 pada kuartal I-2015.

Screen Shot 2015-07-10 at 1.40.09 AM

 

“Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi harus ditanggulangi secara cepat agar tidak berdampak pada investasi yang berpengaruh sangat signifikan pada kelanjutan pembangunan,” kata Peniliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati dalam keterangan tertulisnya.

Enny menambahkan Indonesia yang masuk dalam radar investor dunia perlu melakukan pembenahan. “Beberapa prioritas yang perlu dilakukan di antaranya adalah perbaikan iklim usaha yang dapat mendorong tumbuhnya investasi seperti perizinan, infrastruktur yang memadai, akses finansial, peningkatan labor force dan lain sebagainya,” katanya.*

 

Editor: Muhammad Irham

Penulis

Konten Terkait

*

Top