Saham di Asia Rontok Akibat Referendum Yunani

Hasil referendum Yunani telah memukul saham di Jepang dan Korea hingga turun 6,5 persen. Para ekonom menilai hasil referendum Yunani memberi efek ketidakpastian ekonomi secara global.


Saham-saham di Jepang dinilai terpengaruh oleh referendum Yunani. The Nikkei 225 mengalami penurunan hingga 339,64 persen menjadi 20.200,15 pada menit-menit awal pembukaan. (Foto: Riacale / Foter / CC BY-NC-SA)

Varia.id, Jakarta – Saham-saham di pasar Asia berguguran menanggapi hasil referendum Yunani. Namun, saham-saham Tiongkok justru semakin perkasa.

Dalam hasil referendum rakyat Yunani memutuskan untuk menolak syarat-syarat dana talangan dari lembaga donor untuk menghindari kebangkrutan. Hasil jajak pendapat Yunani menyimpulkan, 61 persen warga negara itu menolak menyetujui penghematan sebagai syarat-syarat pencairan dana talangan.

Hasil referendum ini kemudian memperuncing konflik dingin antara pemerintah Yunani dengan Uni Eropa. Krisis utang Yunani juga berpotensi mengancam kestabilan sistem keuangan Uni Eropa dan merembet ke kawasan-kawasan lain.

Sebagian besar saham-saham di pasar Asia jatuh, Senin 6 Juli 2015. Indeks Harga Saham Gabungan di The Nikkei 225 di Bursa Efek Jepang dan Kospi Korea Selatan mengalami penurunan hingga 1,6 persen. The Nikkei 225 mengalami penurunan hingga 339,64 persen menjadi 20.200,15 pada menit-menit awal pembukaan. IHSG di Hong Kong juga mengalami penurunan hingga 1,1 persen menjadi 25.789,98.

Sebaliknya, harga saham-saham di Tiongkok justru menanggapi referendum Yunani dengan sikap positif. IHSG di pasar saham The Shanghai Composite mengalami kenaikan hingga 6 persen setelah dibuka. Namun, peningkatan ini bisa jadi disebabkan komitmen perusahaan-perusahaan sekuritas Tiongkok yang mengatakan akan tetap melakukan investasi di pasar Shanghai.

Screen Shot 2015-07-06 at 14.05.11

 

Di Luar Perkiraan Pasar

Para pengamat ekonomi menilai, hasil referendum ini berada di luar perkiraan pasar. Ini karena pasar sebelumnya tidak memperkirakan hasil referendum memberi selisih besar.

Pengamat ekonomi dari Raymond James, Pavel Molchano mengatakan, seperti diberitakan Associated Press pada 6 Juli 2015, hasil referendum ternyata menunjukan mayoritas warga Yunani menolak syarat dana talangan. “Hasilnya jauh lebih bulat pada ‘tidak’ dibandingkan perkiraan jajak pendapat,” katanya.

Harga saham-saham di Jepang juga dinilai terpengaruh Yunani meski kedua negara tidak memiliki hubungan ekonomi erat.

Ekonom dari First NZ Capital, Chris Green mengatakan, pasar kini tengah bersiap melihat Yunani memasuki tahap baru. “Sekarang pasar memasuki periode ketidakpastian. Kita berada dalam transisi untuk menyaksikan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Sementara, Pengamat ekonomi dari SMBC Friend Securities, Toshihiko Matsuno melihat, pasar takut krisis Yunani berdampak pada ekonomi Jepang. “Jalan perundingan memang belum buntu. Banyak pemain memilih menunggu,” katanya, seperti diberitakan The Japan Times pada 6 juli 2015. Ia melihat, permasalahan ekonomi mungkin akan muncul jika Yunani mendekat ke Rusia.

Seperti diketahui, Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras sempat mengunjungi Rusia untuk mengajukan pinjaman Juni lalu. Dalam kunjungan itu, Tsipras mengunjungi makam korban tentara Hitler sebagai bentuk sindiran terhadap Jerman. “Permasalahan baru dapat muncul jika resiko geopolitik muncul,” katanya.*

 

Editor: Muhammad Irham (The Japan Times/AP)

Konten Terkait

*

Top