Harga Minyak Turun, Ekonomi Arab Saudi Tetap Tumbuh

Ekonomi Arab Saudi untuk sementara mengalami pertumbuhan, meski harga minyak dunia masih belum mengalami peningkatan dari kisaran 60 dolar AS per barel. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi di sana tak akan bertahan lama.


Ladang pengeboran minyak di padang pasir Arab. (Foto: potomo / Foter / CC BY-NC-SA)

VARIA.id, Arab Saudi – Ekonomi Arab Saudi untuk sementara berhasil lolos dari jerat harga minyak dunia. Produk Domestik Bruto (PDB) negara petrodolar itu tetap tumbuh meski harga minyak tinggal di kisaran 60 dolar Amerika Serikat per barel.

Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi perlahan menunjukan pemulihan. PDB Arab Saudi mengalami pertumbuhan hingga 2,4 persen pada triwulan pertama 2015 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu menunjukan peningkatan pertumbuhan ketimbang triwulan terakhir. Pada periode itu, ekonomi Arab Saudi hanya tumbuh 1,6 persen.

Arab Saudi sangat mengandalkan pemasukan mereka dari ekspor minyak. Negara ini terpukul akibat harga minyak jatuh dari di atas 100 dolar AS per barel pada pertengahan tahun lalu menjadi kisaran 60 dolar AS per barel saat ini.

Arab Saudi dinilai berhasil mempertahankan pertumbuhannya karena negara menggelontorkan banyak uang untuk berbelanja. Selain itu, sektor swasta di Arab Saudi dinilai cukup kuat.

“Data itu memperkuat bukti bahwa ekonomi Arab Saudi sudah melewati badai akibat penurunan harga minyak,” ungkap pengamat Timur Tengah Jason Tuvey, seperti diberitakan Reuters pada 2 Juli 2015.

Ia menambahkan, pertumbuhan itu membantah ketakutan banyak orang bahwa penurunan harga minyak akan menimbulkan krisis pada ekonomi Arab Saudi. Sebab, sebanyak 40 persen ekonomi Arab Saudi berasal dari sektor minyak.

Badan Pusat Statistik (BPS) Arab Saudi bahkan menyebutkan, sektor ini mengalami pertumbuhan 1,8 persen pada triwulan pertama. Pada triwulan akhir 2014, sektor minyak di Arab Saudi mengalami penurunan atau resesi hingga 0,7 persen.

Sektor swasta juga tetap tumbuh hingga 3,3 persen. Pertumbuhan ini melambat dari triwulan terakhir 2014 sebesar 4,7 persen. Namun, pertumbuhan tetap kokoh karena sektor eceran dan konstruksi tumbuh pesat. Ekonom Abu Dhabi Commercial Bank Monica Malik, yakin pertumbuhan ini bahkan bisa lebih tinggi setelah data yang lebih akurat dapat terkumpul.

Screen Shot 2015-07-03 at 16.52.30

Masa Depan Tetap Tak Pasti

Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi bagaimanapun sangat tergantung pada belanja negara. Sebagian ekonom menilai, cara ini tidak dapat bertahan lama jika harga minyak tetap berada di bawah 70 dolar AS per barel. Sebab, harga minyak murah memunculkan defisit anggaran negara hingga 150 miliar dolar AS.

Pemerintah menggelontorkan anggaran besar-besaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini termasuk bonus dua bulan gaji bagi pegawai negeri untuk pengangkatan Raja Salman. Arab Saudi menggunakan cadangan devisa mereka sebagai sumber pendanaan tersebut.

Malik memperkirakan, cara seperti ini tidak dapat bertahan hingga tahun depan. Sebab, cadangan devisa Arab Saudi di luar negeri sudah terkuras sebesar 65 miliar dolar AS sejak Agustus lalu menjadi hanya 672 miliar dolar AS pada Mei lalu. “Tahun depan, pertumbuhan mungkin akan lebih lambat. Belanja pemerintah tidak akan tumbuh seperti saat ini,” kata Malik.

Pengamat Timur Tengah Jason Tuvey bahkan memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Arab Saudi akan turun menjadi 1,5 persen tahun ini seiring pendapatan sektor minyak yang akan melorot. Hal ini dapat dilihat dari perusahaan negara Saudi Aramco yang memangkas sejumlah proyek pembangunan.

 

Editor: Muhammad Irham (Reuters)

Konten Terkait

*

Top