Memadukan Gaya dan Teknik Maestro

Perjuangannya untuk menjadi seorang seniman cukup panjang. Ia bergumul dengan kehidupan Kota Ja­karta yang sangat keras dan multipersoalan. Hasilnya, kini karyanya telah dikoleksi banyak tokoh.


Lukisan karya Yahya Taisir.

VARIA.id, Jakarta – Banyak seniman kondang yang memulai karier seninya dari bawah. Yahya Taisir adalah salah satunya. Bisa dibilang, dia ter­masuk pelukis yang tumbuh secara alamiah, berangkat dari panggilan jiwa dan hobi sejak kecil.

Seniman kelahiran Jakarta ini mulai melukis sejak masih anak-anak. Tahun 1981, Yahya kecil sering mengunjungi Pasar Seni Ancol, Jakarta, menyaksikan para seniman yang tengah berkarya. Inilah muasal pria berkacamata ini suka dengan karya-karya seni, terutama seni lukis.

Saking seringnya ia berkunjung ke tempat tersebut, di benak Yahya pun tercetus niatan untuk menjadi seniman. Dia pun belajar melukis di Gelanggang Remaja Jakarta Barat ketika masih duduk di bangku SMA.

Sejak itu, Yahya makin rajin belajar melukis foto. Acap mene­rima pesanan dari teman atau tetangga yang ingin dilukis fotonya. “Itu kenangan yang paling menye­nangkan di masa kecil saya,” tutur Yahya kepada VARIA.id, di Jakarta.

Kiprah Yahya makin berkembang ketika ia ber­gabung dengan HIPTA (Himpunan Pelukis Jakarta), yang diketuai seniman Hardi.

Dia juga ikut sejumlah kegiatan seni yang dipelopori Hardi, termasuk melukis “DPR WC Umum” yang digelar di depan gedung DPR sebagai wujud protes rencana pembangun­an gedung baru, beberapa tahun lalu.

Dua pameran penting yang pernah diikuti perupa ini antara lain pameran Lukisan Art Energy di Galeri Nasional, pada 15 Mei 2012, dan Pameran Sketsa Jakarta di Bentara Budaya Jakarta, 6 Juni 2012.

Dalam pameran Art Energy, lukisan Yahya berte­ma Rig dan Eksplorasi mendapat apresiasi kolek­tor. Sementara dalam Pameran Sketsa Jakarta, ia berpameran dengan13 seniman lainnya yang ketika itu dalam rangka menyongsong pemilihan gubernur Jakarta yang baru.

Pasar barang seni dunia. Sumber:(artprice.com)

Pasar barang seni dunia. Sumber:(artprice.com)

 

Dikoleksi para tokoh

Kematangan karya-karya Yahya kian terlihat dalam beberapa pame­ran tunggalnya. Di antaranya pame­ran yang bertajuk 234 in Harmony di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (TIM), pada 2-11 Nopember 2012.

Dalam pameran ini, peraih penghargaan Betawi Award (The Jak’s Center) dalam bidang Seni Lukis Betawi ta­hun 2007 ini menampilkan sejumlah karya beragam tema dengan sapuan ekspresionis.

Kekagumannya kepada Affandi, Nyoman Gunarsa, Hardi, dan Kriyono terlihat dari goresannya yang spontan dan kadang dekoratif. Yahya menco­ba menggabungkan gaya dan teknik para pelukis senior itu dengan gayanya sendiri.

“Saya akui, para seniman senior ini banyak menginspirasi dan mewarnai karya-karya saya,” ungkapnya.

Kolektor sekaligus pengamat seni Fadli Zon, dalam katalog pameran tunggal Yahya di Jakarta mengung­kapkan, Yahya termasuk perupa yang masih mengembara dan mencari tem­patnya yang tepat dalam dunia seni lukis di Tanah Air. Ada penemuan, ada pula penjajakan terhadap tema-tema lukisannya.

“Lukisannya merefleksikan kejujuran, kesederhanaan, dan dinami­ka serta warna pergulatan mencari kebahagiaan,” kata Fadli Zon.

Selain Fadli Zon, ada sejumlah nama lain yang sudah menjadi kolek­tor karya-karya Yahya. Mereka antara lain Irjen Pol Mudji Waluyo, Bambang Yoga Soegomo, Tuty Becker, Nina Barina, Asrian Mirza, Dedi Yusmen, Istri Menteri ESDM Jero Wacik, dan R Prioyono (mantan Kepala BP Migas).

Bicara soal aliran seni, Yahya me­ngaku mengalir saja. Ia bahkan me­ngaku tak terlalu memusingkan aliran apa yang tengah ia lakoni dalam karya-karyanya.

Belajar dari karya-karya para maestro seni rupa, menu­rut Yahya, lebih penting ketimbang memikirkan aliran seni. “Apa saja saya lukis, yang penting bisa menjadi karya yang indah untuk dinikmati orang lain,” ungkapnya.

Di usianya yang menjelang kepala lima, Yahya masih aktif berkarya. Tak hanya lukisan bertema sosial, seniman ini sudah merambah ke beberapa karya yang bertema politik.*

 

Editor: Chairul Akhmad

 

 

Penulis

Konten Terkait

*

Top