Kekuatan Figur di Tengah Abstrak

Dalam setiap karyanya, seniman ini acap memainkan figur. Ia juga kerap menampilkan hewan sebagai simbol-simbol tertentu. Sebagai ungkapan proteskah?


Lukisan karya Gatot Widodo.

VARIA.id, Jakarta – Sosok beberapa gajah dalam uku­ran kecil dan besar tampak saling bertumpuk di kanvas yang didomi­nasi warna biru. Di antara hewan-hewan bergading itu terlihat juga beberapa figur manusia dengan pose yang berbeda.

Ada yang mendongak keatas, ada yang menggeliat, ada pula yang seolah sedang menatap tajam. Sosok gajah dan figur manusia juga tampak saling bertumpuk satu sama lain.

Itulah tampilan salah satu karya Gatot Widodo yang berjudul Berburu Gajah di Padang Biru. Keunikan dari lukisan ini, meski figur manusia digambarkan saling berhimpitan, namun setiap sisi dari mere­ka juga membentuk figur lain. Hal serupa juga terjadi pada sosok gajah-gajah yang digambarkan saling berhimpitan.

Karya seniman kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 17 Juni 1968 ini menggambarkan kekesalan batinnya terhadap ke­bijakan-kebijakan pemerintah selama ini.

Di antaranya kebijakan pemerintah untuk memungut pajak warung Tegal (warteg), kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam mengantisipasi kemacetan di Jakarta, dan masih banyak lagi lainnya.

“Semua kebi­jakan itu dirasakan membebani rakyat,” ujarya kepada VARIA.id, di Jakarta.

Menurut Gatot, gajah merupakan simbol dari rakyat Indonesia yang kuat. Karya ini terinpsirasi dari ucapan seorang temanya dari Jepang.

Temannya itu pernah berkata kepada Gatot, “Saya nggak bisa hidup di Indonesia, karena nggak ada perlindungan sama sekali di negara Anda, mulai dari hak hidup, kesehatan, dan lainnya. Jadi menurut mereka, orang yang bisa hidup di Indonesia itu orang-orang yang hebat dan kuat menghadapi kebijakan pemerintah yang kurang melindungi,” ujarnya.

Lukisan berukuran 1,5 x 6 meter yang dibuat dalam dua panel ini, menurutnya, sudah mewakili kegundahannya dalam ber­bagai masalah, mulai dari masalah politik, hukum, sosial, dan lainnya.

Melalui karya ini pula, sang pelukis ingin mengungkapkan pesan moral tentang pentingnya menjaga hati, pikiran, dan tubuh kita sebagai kodrat­nya sebagai manusia.

“Biarlah langit itu biru, biarlah laut itu biru, kekuatan alam itu tetap ada walau terjadi eksploitasi pengu­saha,” ujar Gatot penuh semangat.

Ada juga karyanya berjudul Yes I am a Model. Pada lukisan ini ia ingin menggambarkan orang Indonesia itu termasuk “pesolek”. Artinya, kita selalu mengikuti segala sesuatu yang kekin­ian.

Ia mencontohkan, orang memakai handphone model terbaru, belum tentu semua fungsinya terpakai. Begitu juga dengan produk-produk lainnya, orang Indonesia gampang punya keinginan untuk memiliki, meskipun tak butuh-butuh amat.

 

Abstrak figuratif

Karya-karya alumni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya­karta ini memiliki kekhasan ide. Ia acap memainkan figur dalam setiap karyanya.

Karena itu, ia menyebut karyanya itu beraliran abstrak figuratif. Secara kasat mata karya-karya Gatot terlihat abstrak, tapi masih terasa figurnya.

Seorang pecinta seni dari Jakarta, Samuel Hartono, mengungkapkan, karya Gatot sangat kuat dan ekspresif dalam warna dan ide. Karya-karyanya selalu memunculkan sikap optimistis.

“Yang unik dari karya dia, setiap bentuk yang ditampilkan selalu bertumpuk-tumpuk, tetapi setiap sisi itu membentuk figur, yang menggambarkan manusia sebagai makhluk sosial selalu saling bergan­tung,” ujar Hartono yang sudah mengoleksi beberapa lukisan karya Gatot.

Bicara soal karir, Gatot tampaknya dilahirkan untuk menjadi seniman. Darah seninya mengalir dari sang ayah yang mantan polisi. Hanya saja, sang ayah bu­kan di seni lukis melainkan di seni musik.

Dulu, ayahnya adalah anggota korps musik ABRI. Ketika awal-awal memasuki ISI Yogyakarta, mulanya Gatot ingin men­jadi mahasiswa lazimnya seperti teman kuliah lainnya: kuliah, lulus, lalu menentu­kan pekerjaan untuk masa depannya.

Namun, jiwa seni Gatot tak bisa dibendung ketika ia memutuskan memilih jurusan seni rupa. Keinginannya untuk menghasilkan karya lukisan ketika sulit untuk “direm” sejak semester I.

Hampir setiap hari ia berkarya. Berbagai ajang pameran baik di dalam maupun di luar kampus ia ikuti. Bahkan, ketika memasu­ki semester enam, ia pernah mengikuti pameran lukisan di Tokyo, Jepang. Gara-gara kesibukan berkarya itulah kuliah Gatot jadi molor. “Saya lulus setelah 10 tahun kuliah,” ujarnya sambil terbahak.

Ada kesan tersendiri saat lukisannya diikutkan pada pameran di Jepang. Dia mengaku, ada seorang pakar seni asal Jepang yang mengkritik karyanya. Pakar seni itu hanya menuliskan kalimat “Terlalu Bagus” pada karya gatot, tidak diulas panjang lebar

Sejak itulah Gatot mulai aktif mengikuti pameran di beberapa negara di Asia seperti China dan Korea pada 1998.

Apa yang membuatnya terobsesi menjadi seniman? Pria ini mengaku bangga dengan dosen-dosen saya di ISI Yogyakarta. Mereka adalah seniman top di Indonesia, seperti Pak Fajar Sidik dan Pak Nyoman Gunarsa.

Kebanggaan Gatot ter­hadap para dosennya itulah yang menginspirasi dirinya berangan-angan ingin menjadi seniman yang merdeka. Merdeka dalam arti bukan seniman yang besar karena “digoreng” atau dieksploitasi.*

 

Editor: Chairul Akhmad

 

Penulis

Konten Terkait

*

Top