Lee Kuan Yew dan Warisannya

Di bawah pengaruh Lee, Produk Domestik Bruto Singapura bertambah hingga 10 kali lipat. Lee keras dalam menerapkan kebijakan, namun lentur mengikuti arus global. Hasilnya Singapura menjadi salah satu negara maju.


Lee Kuan Yew, Bapak Bangsa sekaligus Perdana Menteri pertama Singapura wafat di Rumah Sakit Umum Singapura akibat pneumonia, (23/3/2015). (Foto: VARIA.id)

VARIA.id, Jakarta – Bapak bangsa Singapura Lee Kuan Yew menghembuskan nafas terakhir pagi ini pukul 3:18 pagi waktu setempat di Rumah Sakit Umum Singapura. Ia meninggal pada usia 91 tahun dengan mewariskan segudang keberhasilan ekonomi dan kontroversi politik.

Singapura mengumumkan masa berkabung hingga pemakaman Lee pada Minggu depan.

“Perdana Menteri sangat sedih mengumumkan kematian Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pendiri Singapura,” sebut Kantor Perdana Menteri, seperti dikutip laman Reuters pada Senin, 23 Maret 2015.

Ribuan orang meninggalkan bunga dan ucapan bela sungkawa di depan rumah sakit dalam tiga hari terakhir. Lee dirawat di rumah sakit itu sejak 5 Februari 2015 akibat pneumonia.

Lee Kuan Yew merupakan perdana menteri pertama dan terlama di Singapura. Pada 1954, Lee membidani lahirnya Partai People’s Action (PPA) ketika berusia 31 tahun. Ia langsung menjabat sekretaris jenderal hingga hampir 40 tahun kemudian.

Pada 1959, ia berhasil membawa partai itu memenangi pemilu. Singapura merdeka dari penjajahan Inggris beberapa saat setelah kemenangan itu. Hingga kini, partai itu terus memenangi pemilu. Di bawah pimpinan Lee, PPA sempat memenangkan semua kursi parlemen sebanyak empat kali dari 1968-1980.

Lee menjabat perdana menteri Singapura sejak 3 Juni 1959 dan 28 November 1990. Setelahnya, ia menjabat sebagai penasehat pemerintahan di jabatan Perdana Menteri Senior hingga 21 Agustus 2004.

Ketika anak tertuanya, Lee Hsien Loong menjabat sebagai perdana menteri. Ia bertugas sebagai mentor sejak 21 Agustus 2004 hingga 21 Mei 2011. Hingga akhir hayat, Lee Kuan Yew merupakan anggota parlemen Singapura.

 

Keajaiban ekonomi

Singapura mengalami keajaiban ekonomi selama tiga puluh tahun lebih di bawah tangan besi Lee Kwan Yew. Produk domestik bruto (PDB) Singapura bertambah hingga 100 kali lipat pada 1960 hingga 2011.

Sekarang, negara kota itu memiliki PDB hingga 55 ribu dolar Amerika Serikat. Indeks Pembangunan Manusia Singapura juga berada pada peringkat 9 dunia, mengalahkan Denmark dan Swedia.

Editorial Bloomberg pada 23 Maret 2015 menyebutkan, Lee sukses membawa ekonomi Singapura menjadi salah satu yang paling maju di muka bumi.

 

Screen Shot 2015-03-23 at 17.46.59

 

 

“Oasis segar yang terkenal karena kekuatan institusi dan pasar terbuka di kawasan yang masih dibebani korupsi, kronisme, dan birokrasi kusut,” tulis Bloomberg. 

Selama memimpin, Lee menekankan pentingnya stabilitas politik untuk pembangunan ekonomi. Alhasil, ia dikenal memimpin dengan tangan besi. Pemerintahan otoriternya tak segan-segan membatasi kebebasan pers.

“Kebebasan pers, kebebasan dari media berita, harus tunduk pada kebutuhan utama dari integritas Singapura, dan keutamaan tujuan pemerintahan terpilih,kata Lee pada Majelis Umum International Press Institute di Helsinki pada 9 Juni 1971.

Lee dikenal teguh pada pendiriannya ketika membangun Singapura. Contohnya, ia berkukuh tidak menjalankan usulan konsultan penerbangan dari Inggris dan Amerika Serikat pada 1970-an.

Ketika itu, konsultan asal kedua negara itu mengusulkan Singapura membuka perluasan di Paya Lebar. Alasannya, pemerintah tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk pembebasan lahan.  Lee menganggap usulan itu angin lalu.

“Saya pernah terbang ke bandara Logan di Boston dan kagum bagaimana pesawat mengeluarkan suara bising di atas air. Landasan pacu di Paya Lebar akan membuat pesawat membelah jantung Singapura. Kami akan terganggu bising bertahun-tahun,” ujarnya ketika itu, seperti dikutip Channel News Asia pada 23 Maret 2015.

Lee tetap menjalankan rencana semula untuk membangun bandara di Changi pada 1975. Alhasil, Lee berhasil menuntaskan mega proyek itu dalam enam tahun dari rencana semula 10 tahun. Padahal, Asia Tenggara ketika itu tengah berada dalam krisis minyak sejak 1973.

Meskipun keras, Lee pandai menyesuaikan kebijakan Singapura dengan perubahan dunia. Ia beberapa kali berubah kebijakan menyangkut bisnis. Lee semula menolak hajatan Formula 1 dan pendirian kasino di Singapura. Lee melihat kota-kota besar dunia menggunakan dua magnet itu untuk menggairahkan ekonomi.

“Saya tidak suka kasino. Tapi dunia berubah dan kita tidak punya petilasan terpadu seperti di Las Vegas, kita akan kalah. Mari coba dan berupaya membuatnya aman dan bebas dari mafia, prostitusi, dan pencucian uang. Apakah kami bisa? Saya tidak yakin. Tapi, kami akan mencoba,” katanya.

Lee berprinsip, mengikuti arus global merupakan keniscayaan. Jika tidak, Singapura bakal tergilas zaman.

“Kami harus mengikuti arah yang ditunjukan kondisi global jika ingin bertahan di dunia modern. Jika kami tidak terhubung dengan dunia modern, kami akan mati. Kami akan kembali menjadi desa nelayan seperti dulu,” kata Lee.*

 

 

Editor: Drajat Kurniawan

 

 

Konten Terkait

*

Top