Rasakan Sensasi dan Rejeki di Kursi ‘Ajaib’ 3D

Tak perlu jauh-jauh ke bioskop atau wahana permainan untuk merasakan film 4D. Cukup atur ulang ruang hiburan rumah, tambahkan dengan kursi ‘ajaib’ yang bisa digunakan untuk bersensasi maupun meraup rejeki.


Dua orang sedang menduduki kursi yang bisa merasakan efek film 4 dimensi. Kursi yang didesain khusus dengan teknologi canggih ini dibuat oleh Anang di bengkel kerjanya kawasan Merjosari Lowokwaru, Malang. (Foto: Anang Nur Hidayat/ CC BY)

VARIA.Id, Jakarta – Agar dapat merasakan ketegangan dikejar-kejar Godzilla, Anda tidak perlu berada di Amerika Serikat. Cukup duduk manis di atas kursi buatan Anang Nur Hidayat, Anda sudah bisa merasakan langsung ketakutan yang dialami warga AS saat diserang Godzilla.

Kursi buatan Anang itu bukan kursi biasa. Kursi ini didesain khusus dengan teknologi canggih yang bisa membawa Anda merasakan efek film 4 Dimensi (4D). Anda seakan dibawa masuk dalam film yang sedang diputar.

Anda juga tidak perlu jauh-jauh ke bioskop atau wahana permainan untuk merasakan film 4D. Anda bisa menyulap home theater mini di rumah ditambah kursi buatan Anang yang dikoneksikan dengan komputer dan proyektor atau televisi yang didukung sistem 3D dan DVD.

Menurut Anang, kelebihan menonton film 4D dengan kursi buatannya adalah penonton bisa merasakan langsung teknologi 3D dan efek-efek lain yang ditimbulkan dari desain kursi. Seperti, efek getar, efek air, efek angin, efek lighting dan lain sebagainya.

Penonton akan dikejutkan oleh benda-benda dalam film yang seolah-olah keluar dari layar dan menghampiri. Bukan hanya itu, penonton juga dapat merasakan efek dramatis percikan air, hembusan angin atau gelembung-gelembung udara yang keluar di sekeliling.

“Penonton bisa merasakan efek 3D-12D,” ujarAnang di Jakarta, Senin, 16 Februari 2015.

Untuk merasakan kenikmatan menonton film 4D tersebut, penonton tinggal memesan kursi buatan Anang. Kursi 3D dibanderol Rp 25 juta per unit, atau bisa paket dua kursi 4D yang dipatok Rp 45 juta.

Anang juga menawarkan paket penjualan empat kursi 4D yang dibanderol Rp 100 juta lengkap dengan proyektor dan pelatihan. “Untuk harga paket, bisa diobrolin lagi. Tinggal konsumen maunya seperti apa,” katanya.

 

Anatomi Kursi 4 Dimensi ; Diolah Varia.id dari berbagai sumber.

Anatomi Kursi 4 Dimensi ; Diolah Varia.id dari berbagai sumber.

 

 

Peluang bisnis

Film sudah menjadi bagian dari kebutuhan hiburan masyarakat. Tidak sedikit orang yang rela merogoh kocek dan antre hanya untuk menonton film di bioskop 4D. Maklum, belum semua bioskop di Indonesia memiliki fasilitas tersebut. Boleh dibilang, baru bioskop milik korporasi besar yang telah menyediakannya.

Ambil contoh, bioskop Blitzmegaplex yang sudah mengenalkan efek 4D sejak akhir 2013 lalu. Salah satu raksasa bioskop Tanah Air itu menggunakan teknologi Korea untuk efek 4D. Blitzmegaplex membanderol tarif Rp 120 ribu-Rp 138 ribu per penonton untuk melihat film 2D yang memiliki efek 4D. Sedangkan efek 4D pada film 3D dihargai Rp 126 ribu-Rp150 ribu.

Melihat besarnya animo masyarakat terhadap film di bioskop tersebut, Anang yakin, produk buatannya memiliki prospek bagus. Pembeli tidak hanya menggunakan kursi buatannya untuk konsumsi pribadi, tapi juga bisa dijadikan bisnis rumahan yang mendatangkan omzet besar.

“Apalagi perkembangan teknologi sekarang mendukung. Dulu 3D baru bisa dipakai di TV datar 40 inci. Sekarang TV 21 inci saja sudah didukung 3D,” ujarnya.

Anang mengasumsikan peluang usaha rumahan bagi konsumen. Misalnya, pembeli bisa mengawali dengan merenovasi salah satu kamar di rumahnya menjadi home theater. Lalu membeli paket kursi 4D yang harga Rp 100 juta empat kursi plus proyektor. Kemudian mengeluarkan modal sekitar Rp 10 juta untuk komputer, koleksi film dan biaya instalasi.

Dari situ, konsumen bisa membanderol Rp 15 ribu-Rp 25 ribu untuk sekali nonton. Misalnya, buka mulai pukul 10.00-21.00 atau sebelas jam. Pendapatan penonton bisa dikalikan tarif per kursi dikalikan jam tayang.

“Untuk empat kursi, sebulan minimal bisa pegang Rp 15 juta. Tidak sampai setahun bisa balik modal,” katanya.

 

Setengah miliar

Anang menggeluti bisnis kursi 3D sejak 2012. Awalnya, pengusaha asal Lowokwaru, Malang, JawaTimur ini membuka jasa servis komputer di rumahnya. Ia kemudian mendapat order memperbaiki kursi film efek 3D di salah satu wahana di Malang. Dari situ, ia membuat program sendiri untuk menghasilkan efek 3D. Kemudian, efek tersebut ditawarkan ke pengelola wahana untuk memperbaiki kursi yang rusak.

Anang kemudian terpikir untuk menciptakan kursi efek 4D sendiri yang di-support program yang dia buat. Produk tersebut dia tawarkan lewat media sosial dan internet. Mengusung nama PT Mitra Mandiri Globalindo, nama Anang mulai dikenal pengelola wahana hiburan.

Tak hanya dari JawaTimur, Anang juga menerima order dari luar Pulau Jawa. Awal Januari 2015, ia mendapat order sembilan kursi 4D dari Banjarmasin. Salah satu wahana di Tapanuli, Sumatera Utara juga memesan 15 kursi 3D.

Anang mengklaim produk buatannya lebih baik ketimbang produk impor yang selama ini dipakai bioskop dan wahana hiburan.

“Di China, untuk empat kursi 4D saja bisa sampai Rp 140 juta. Kalau rusak, sparepart juga harus impor dari sana. Belum lagi ongkos kirim dari China plus perizinan, bisa sampai Rp 40 juta-Rp 60 juta,” katanya.

Anang memproduksi kursi 4D berdasarkan pesanan (by order). Dalam proses produksi, dia dibantu 3-5 karyawan. Dalam sebulan, Anang bisa menyelesaikan sekitar 24 kursi. Omzet yang dia dapat berkisar Rp 200 juta-Rp 500 juta. Jika banyak pesanan, omzet Anang bisa mencapai Rp 700 juta-Rp 1 miliar.

 

Bantu industri film

Pengamat Film Indonesia Adrian Jhonatan Pasaribu mengapresiasi bisnis yang digeluti Anang. Menurut dia, Anang bisa berkontribusi dalam perkembangan film Tanah Air. Asalkan film yang digunakan adalah film-film asli, bukan film bajakan.

“Kalau beli film asli kan otomatis ada kontribusi terhadap pajak pemerintah,” katanya.

Seiring perkembangan fasilitas menonton film selain di bioskop, karya Anang dinilai dapat membantu tumbuh kembangnya film dalam negeri. Menurut Jhonatan, salah satu faktor penyebab industri film Tanah Air kurang berkembang sejauh ini karena distribusi film kurang merata.

Belum lagi paradigma masyarakat dan produser film yang masih menganggap nonton film harus di bioskop. Sineas juga demikian, sebagian besar menilai pencapaian berkarya diukur dari film yang masuk bioskop.

“Padahal, jumlah bioskop masih terbatas di kota-kota besar. Distribusi film kurang karena jumlah bioskop masih terbatas. Harusnya bisa memanfaatkan ruang-ruang menonton selain bioskop,” kata Jhonatan.*

 

 

Editor: Chairul Akhmad

 

 

 

 

Tags

Konten Terkait

*

Top