Skema Pajak Baru Bikin Lesu Ritel Malaysia

Skema baru pajak barang dan jasa diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan ritel Malaysia tahun ini. Butuh enam bulan agar daya beli masyarakat kembali pulih.


Produk Sayur-mayur yang dijual di supermarket/ ilustrasi. (Foto: Aulia Afrianshah/ VARIA.id)

VARIA.id, Jakarta – Lembaga penelitian Grup Retail Malaysia menurunkan target pertumbuhan retail 2015 dari 6 persen menjadi 5,5 persen. Penerapan skema baru pajak barang dan jasa atau Good and Service Tax (GST) dianggap biang kerok perlambatan tersebut. Terlebih, pertumbuhan 2014 tampaknya meleset dari perkiraan semula.

Laporan penelitian berjudul, “Malaysia Retail Industry Report” itu memperkirakan, GST akan mengerem pengeluaran konsumen segera setelah diterapkan pada 1 April 2015 mendatang.

GST diperkirakan memicu para konsumen untuk memborong barang-barang ritel pada triwulan pertama. Laporan itu juga menganggap tahun baru China, bonus gaji dan penyaluran subsidi Bantuan Rakyat 1Malaysia (BR1M) 4.0 turut mendorong pembelian besar-besaran pada triwulan pertama.

“Selama periode enam bulan setelah April 2015, penjualan ritel sepertinya akan melambat karena konsumen membuat pembelian besar, dan mereka memilih bersikap menunggu harga barang dan jasa,” kata Direktur Eksekutif Retail Grup Malaysia, Tan Hai Hsin.

Tan mengatakan, pembelian-pembelian besar itu akan tampak terutama pada barang-barang bernilai tinggi. Di antaranya adalah fesyen mewah, perhiasan, mobil, komputer, kamera, telepon genggam, barang elektronik, furnitur, dan perlengkapan rumah tangga.

Tan menambahkan, pada triwulan terakhir 2015, konsumen Malaysia diperkirakan akan mulai pulih. Konsumsi produk ritel juga diprediksi bakal kembali normal pada periode itu.

 

 

eceran-malaysia

 

 

Prediksi meleset 2014

Laporan itu juga memberi kabar buruk bagi perkembangan ritel 2014. Meski perhitungan triwulan terakhir 2014 belum tuntas, Grup Retail Malaysia mencatat, secara keseluruhan pertumbuhan ritel lebih lambat dari perkiraan.

“Triwulan ketiga 2014 hasilnya sangat mengecewakan. Mengantisipasi perlambatan pertumbuhan pada triwulan empat 2014, kami mengubah perkiraan pertumbuhan tahunan kami terhadap industri ritel Malaysia. Dari 6 persen menjadi 4,9 persen atau 96,2 miliar ringgit,” kata Group Ritel Malaysia.

Pada triwulan ketiga 2014, industri ritel Malaysia tumbuh 2 persen. Lebih rendah ketimbang tahun 2013 untuk periode yang sama sebesar 3,1 persen. Angka itu jauh lebih rendah dari perkiraan Asosiasi Retail Malaysia dan Grup Retail Malaysia sebesar 8 persen dan 6,3 persen untuk periode tersebut.

Pertumbuhan ekonomi dan belanja pada Hari Raya Idul Fitri gagal mendongkrak konsumsi ritel secara signifikan pada triwulan ketiga tahun lalu. Padahal, pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 5,6 persen pada triwulan itu. Ini karena pertumbuhan ekspor dan kegiatan domestik. Sementara, inflasi pada triwulan ketiga mencapai 3 persen karena kenaikan harga makanan dan minuman dan transportasi.

“Hari raya idul fitri pada Juli gagal memperkuat penjualan dan keputusan Bank Negara Malaysia untuk meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 persen menjadi 3,25 persen pada Juli lalu menurunkan pembelian barang berharga mahal karena meningkatkan biaya utang,” tulis Grup Retail Malaysia.

 

 

food-bever-May

 

 

Penjualan hingga triwulan ketiga diperkirakan melambat karena konsumen menunggu peluncuran Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2014 pada Oktober. APBN itu menyebutkan informasi terkait daya beli pasien seperti skema baru GST dan insentif.

Perlambatan pertumbuhan penjualan ritel pada triwulan ketiga berdampak pada buruknya prestasi selama sembilan bulan pertama 2014. Sektor retail pada periode itu hanya tumbuh 4,8 persen. Sektor supermarket dan pusat perbelanjaan bahkan mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 5,3 persen. Sektor itu diperkirakan baru tumbuh hingga 7,7 persen pada triwulan terakhir 2014.

Sektor fesyen dan aksesoris tercatat tumbuh paling cepat di antara kelompok retail dengan laju 11,3 persen pada sembilan bulan pertama 2014. Pertumbuhan pada triwulan akhir 2014 diperkirakan akan mencapai 12,3 persen.

Grup Retail Malaysia menambahkan, sektor lain seperti perlengkapan fotografi, barang bekas, keperluan kebugaran, mainan, suvenir, kerajinan dan seni serta jasa makanan mengalami penurunan 6,2 persen pada triwulan ketiga 2014. Mereka berharap pada triwulan terakhir, sektor-sektor itu akan tumbuh 3,5 persen-5,5 persen.*

 

 

Editor: Chairul Akhmad (The Edge Markets/The Star Online)

 

 

 

 

Tags

Konten Terkait

*

Top