Dimensi Pendukung Ekonomi Kreatif Belum Siap

Pemerintah didesak agar segera menentukan arah kebijakan ekonomi kreatif. Paling tidak dengan membentuk lembaga pelindung industri kreatif.


Staf Ahli Bidang Perencanaan dan Pembangunan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif era Kabinet Indonesia Bersatu II, Cokorda Istri Dewi, memapaparkan perkembangan Industri Kreatif di Galeri Indonesia Kreatif, di Jakarta. (Foto: Khoiril Tri Hatnanto/VARIA.id)

VARIA.id, Jakarta Ekonomi sektor kreatif dalam negeri dihadapkan dengan tantangan berat tahun depan. Alat pendukung subsektor industri kreatif masih jauh dari kata siap. Di satu sisi, Indonesia bakal menghadapi pasar bebas, dimana produk impor akan membanjiri pasar domestik.

Ini menjadi tantangan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pemberlakuan ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 memaksa produk lokal memiliki daya saing. Tapi, kondisi tersebut juga harus diikuti dengan persiapan alat pendukung.

Staf Ahli Bidang Perencanaan dan Pembangunan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif era Kabinet Indonesia Bersatu II, Cokorda Istri Dewi, mengemukakan, ada tujuh alat pendukung ekonomi kreatif yang harus segera di benahi pemerintah.

Yakni, ketersediaan sumber daya manusia yang kreatif, ketersediaan bahan baku berkualitas, pengembangan industri yang berdaya saing, ketersediaan pembiayaan, perluasan pasar, ketersediaan insfrastruktur dan teknologi, kelembagaan penjamin iklim usaha yang kondusif. Tujuh dimensi tersebut kemudian dikomparasikan dengan survei penilaian.

“Industri kreatif dianggap memiliki daya saing jika nilainya mendekati 10 dan kurang berdaya saing jika mendekati nol. Sedangkan rata-rata yang dicapai tujuh dimensi itu baru empat koma empat,” papar Dewi di Sanggar Indonesia Kreatif, Kemang, Jakarta, Jumat 12 Desember 2014.

Dewi merinci posisi ketujuh dimensi itu dalam mendukung ekonomi kreatif. Pertama, ketersediaan SDM kreatif. Dinilai dari kualitas, kuantitas pendidikan dan orang kreatif, Indonesia masih minim dengan SDM kreatif yang berdaya saing. Orang kreatif di Indonesia diperkirakan kurang dari 20 persen total penduduk.

Padahal, Indonesia berada di peringkat 4 dengan jumlah penduduk mencapai 253,60 juta jiwa di pertengahan 2014. Angka itu jauh dibanding Malaysia yang hanya 30,07 juta jiwa. ”Jika dilihat dari survei, dukungan SDM kreatif baru di angka 4,5. Soalnya masih sedikit orang yang tergolong kreatif. Padahal hampir 70 persen penduduk Indonesia di usia produktif,” terang Dewi.

Selanjutnya, ketersediaan bahan baku berkualitas berkutat di angka 4,5 pada hasil survei. Menurut Dewi, kondisi itu disebabkan masih banyak bahan baku impor untuk mendukung industri kreatif. Padahal, Indonesia memiliki keanekaragaman SDA. Seperti 35-40 ribu jenis tumbuhan, 707 jenis hewan mamalia, 350 jenis hewan melata, 1.602 spesies burung, 2.184 jenis ikan tawar, dan lainnya.

Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya, yakni 190 lagu daerah dan 177 tarian daerah. “Tetapi sejauh ini pelaku industri kreatif masih kesulitan bahan baku. Seperti kain dan malam untuk produksi Batik, itu masih banyak yang impor,” kata dia.

Dimensi ketiga adalah industri yang berdaya saing. Alat pendukung ini memiliki nilai paling tinggi. Yakni angka 5,3. Hal tersebut dikarenakan terus bertumbuhnya industri kreatif di dalam negeri. Tercatat jumlah industri kreatif pada 2013 sebanyak 5,4 juta usaha. Industri kreatif terus tumbuh 10 persen setiap tahun.

Screen Shot 2014-12-13 at 8.02.01 PM

Namun, pencapaian dimensi usaha kreatif tersebut belum merata. Dilihat dari perolehan ekspor, subsektor desain belum diikuti subsektor industri kreatif lain. Yakni, sebesar 61,83 persen dengan total ekspor mencapai 2 miliar dolar AS. Angka tersebut baru diikuti subsektor karya seni rupa sebesar 18,12 persen dengan nilai ekspor 586 juta dolar AS.

Lalu, subsektor mode 7,77 persen dengan nilai 251 juta dolar AS dan kerajinan sebesar 7,52 dengan nilai 243 juta dolar AS. “Industri kreatif sudah menyumbang produk domestik bruto (PDB) lumayan. Yakni, 6,9 persen atau senilai Rp 573.89 triliun dari total kontribusi ekonomi nasional,” tegas Dewi.

Keempat ada dimensi pembiayaan. Alat pendukung ini tergolong rendah, yakni di angka 3,5. Itu dikarenakan industri kreatif masih kesulitan mencari sumber pembiayaan. Pembiayaan yang ditawarkan lembaga keuangan bersifat konvensional. ”Syarat yang harus dipenuhi pelaku industri kreatif sulit. Apalagi untuk pemula,” ungkapnya.

Kelima ada perluasan pasar. Alat pendukung ini diukur dari posisi Indonesia dalam penetrasi pasar dalam negeri maupun luar negeri. Industri kreatif cukup berkembang di pasar dalam negeri. Hal tersebut tidak lepas dari meningkatnya daya beli dan selera masyarakat, serta pertumbuhan penduduk.

Daya beli konsumen terhadap barang nonmakanan meningkat dari 49 persen di tahun 2010 menjadi 51 persen di akhir 2013. Sayang, kesuksekan penetrasi pasar dalam negeri itu belum diikuti pada pasar global.

Kontribusi Indonesia dalam pangsa pasar global sebesar 3,5 persen dari total ekspor dunia di akhir 2013. Nilai ekspor industri kreatif yang dicapai sebesar 3,23 miliar dolar AS. Angka tersebut masih jauh dibanding Malaysia yang berkontribusi hampir 5 persen.

Hal tersebut dikarenakan, pelaku industri kreatif masih sulit menembus pasar global. “Ada beberapa hal yang menjadi penyebab. Seperti kualitas produk yang belum berdaya saing atau produsen kesulitan mendapat link ke sana,” beber Dewi.

Alat pendukung keenam adalah insfrastruktur dan teknologi. Secara keseluruhan dukungan insfrastruktur dan teknologi di Indonesia masih kurang. Hal tersebut dikarenakan biaya pengembangan dua dimensi tersebut mahal.

Pelindung industri kreatif

Rencana pemerintah membangun internet untuk rakyat yang sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar Indonesia (RPI) 2014-2019 diperkirakan mencapai Rp 728 triliun. ”Selain itu, harga piranti lunak untuk teknologi, akses internet, dan biaya sewa infrastruktur yang ada sekarang mahal,” kata Dewi.

Alat pendukung yang tidak kalah penting adalah kelembagaan. Kelembagaan dinilai belum meningkatkan daya saing industri kreatif dalam negeri secara signifikan. Hal itu dikarenakan regulas-regulasi yang ada kurang mendorong pengembangan industri kreatif.

Selain itu, partisipasi pemangku kepentingan masih rendah. Seperti kurang aktif di pasar internasional dan partisipasi terhadap pelaku usaha kreatif. ”Regulasi timpang tindih, semua punya program tetapi tidak satu tujuan. Perpres No 29 tahun 2011 tentang Ekonomi Kreatif juga terlambat disahkan,” kata dia.

Melihat masih banyaknya tantangan pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif tersebut, desakan terhadap pemerintah untuk segera menentukan arah kebijakan ekonomi kreatif terus mencuat.

Praktisi Industri dan Kota Kreatif Yudhi Soeroatmodjo berharap, pemerintah harus segera membentuk lembaga pelindung industri kreatif. “Meskipun tanpa ada badan atau lembaga menangani industri kreatif, sebenarnya industri kreatif sudah berjalan. Tetapi, tetap harus ada wadah atau lembaga untuk pembinaan atau pendampingan,” papar Yudhi.

Desakan terhadap pemerintah juga di dasari dari peranan industri kreatif. Menurut dia, industri kreatif tidak kalah penting dengan sektor ekonomi lain. Industri kreatif terus tumbuh.

Sebanyak 5,4 juta usaha yang tercatat di tahun 2013 telah menyerap 12 juta jiwa angkatan kerja, serta memberikan kontribusi terhadap devisa negara sebesar Rp 19 triliun atau sebesar 5,72 persen dari total ekspor nasional. “Di pertengahan tahun ini saja sudah mencapai Rp 63,1 triliun atau tumbuh 7,27 persen di banding periode yang sama tahun lalu,” tandasnya.*

 

Editor: Chairul Akhmad

 

Tags

Konten Terkait

*

Top